PROFIL DESA UJUNGNEGORO KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGAN
A.
Gambaran Umum Desa
Desa
Ujungnegoro merupakan desa yang terletak di kecamatan Kesesi kabupaten
Pekalongan provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 766.562 hektar.
Secara geografis desa
Ujungnegoro berada di 33 meter di atas permukaan laut, dengan batas wilayah
sebagai berikut:
sebelah utara :
desa Kesesi
sebelah timur :
desa Karyomukti
sebelah selatan :
desa Windurojo, dan
sebelah barat :
kecamatan Bodeh, Pemalang
Desa Ujungnegoro merupakan
salah satu desa dari 23 desa yang ada di kecamatan Kesesi. Desa Ujungnegoro
pertama kali dibuka oleh sesepuh mbah Kiai Ujung dan mbah Kiai Ageng Sengoro.
Beliau berdualah yang mendirikan desa yang
yang ketika itu masih dalam masa penjajahan oleh Belanda. Desa
Ujungnegoro dulunya merupakan hutan belantara yang kemudian dijadikan pemukiman
penduduk oleh mbah Kiai Ujung dan mbah Kiai Ageng Sengoro dan beliau berdua jugalah yang menyebarkan serta
memberikan pendidikan tentang agama Islam di desa Ujungnegoro. Itulah asal mula
pemberian nama desa Ujungnegoro yang diambil dari nama sesepuh mbah Kiai Ujung
dan mbah Kiai Ageng Sengoro.
Seluruh masyarakat desa
Ujungnegoro beragama Islam dengan tempat peribadatan terdiri dari 3 masjid dan
7 musholla yang tersebar di wilayah Ujungnegoro.
B.
Desa Pada Masa Lalu
Desa
Ujungnegoro pada masa lalu berupa hutan belantara yang masih sedikit
penduduknya. Jalan belum beraspal dan masih banyak fasilitas ataupun sarana
prasarana yang belum memadai. Sebagian besar rumah penduduk masih berdindingkan
kayu dan berlantaikan tanah. Mata pencaharian penduduk sebagian besar pada
sektor pertanian dan peternakan. Sedangkan dalam bidang pendidikan saat itu
masih rendah, sebagian besar penduduk tidak mengenyam pendidikan, gedung
sekolah tidak memadai. Penduduk pada masa itu belum sadar akan pentingnya KB.
C.
Desa pada Masa Kini
Desa
Ujungnegoro terdiri dari 2 dusun. Dusun Ujungnegoro dan dusun Kapirutan. Dusun
Ujungnegoro terdiri dari kurang lebih 600 rumah sedangkan dusun Kapirutan
terdiri kurang lebih 70 rumah.
Jumlah
penduduk mencapai 2.451 jiwa, terdiri dari 1.259 laki-laki dan 1.198 perempuan.
Profesi yang dijalani oleh masyarakat desa Ujungnegoro mayoritas adalah petani.
Selain petani, masyarakat desa Ujungnegoro juga berprofesi sebagai buruh,
dagang, dan lain sebagainya.
Kondisi
jalan di desa Ujungnegoro cukup baik, namun ada jalan di beberapa gang yang
kondisinya kurang baik. Terkait dengan sarana prasarana lainnya, di desa
Ujungnegoro terdapat satu klinik desa yang digunakan oleh masyarakat sebagai
tempat berobat.
|
|
BAB II
PROFIL
JAMAAH MASJID
A.
Sejarah Berdirinya Masjid
Di desa Ujungnegoro terdapat 3 masjid yang menjadi pusat peribadatan.
Masjid pertama adalah Masjid Al-Busro yang berada di RT 02 RW 02. Masjid kedua
adalah Masjid Roudhotul Muttaqin yang berada di RT 03 RW 01, sebelah utara
Balai Desa Ujungnegoro. Terakhir, adalah Masjid Kapirutan yang berada di Dukuh
Kapirutan, Desa Ujungnegoro. Ketiga masjid tersebut mempunyai ciri serta
keadaan yang berbeda.
Masjid Al-Busro
adalah masjid yang pertama kali dibangun di Desa Ujungnegoro. Sebelum ada
masjid Al-Busro, masyarakat di Dusun Ujungnegoro menggunakan musholla sebagai
sarana beribadah. Musholla Al-Busro tersebut berada disebelah barat rumah Bapak
Turmudzi, salah seorang jamaah masjid. Tidak hanya sholat lima waktu, sholat
jum’at dan sholat hari raya juga dilakukan di musholla tersebut. Semakin lama,
jumlah jamaah semakin banyak, sehingga tercipta ide untuk membangun sebuah
masjid. Setelah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak, pada tahun 1947
dibangun sebuah masjid di atas tanah wakaf. Masjid tersebut kemudian diberi
nama Masjid Al-Busro. Nama Al-Busro sendiri diambil dari nama salah seorang sesepuh
desa, yaitu Busrol Kafi yang lebih akrab disapa Mbah Busro.
Dalam
pembangunannya, masyarakat banyak menemui kendala, salah satunya adalah mesalah
pendanaan. Awalnya, biaya pembangunan masjid ditanggung oleh dana desa. Namun,
ketika pembangunan masjid baru setengah jadi, terjadi konfllik di pemerintahan
desa. Konflik tersebut dikarenakan bapak kepala desa, Bapak Sutaryo,
mengundurkan diri. Banyak warga yang tidak mengetahui alasan bapak kepala desa
mengundurkan diri. Konflik ini berdampak pada proses pembangunan masjid. Dana
desa yang masih dibutuhkan warga untuk membangun masjid menjadi terhenti.
Akibatnya warga bergotong royong mengumpulkan dana guna menutupi kekurangan
biaya sekaligus merampungkan bangunan masjid.
Setelah lebih
dari dua bulan, masjid Al-Busro selesai
dibangun dan digunakan untuk kegiatan ibadah warga. Sedangkan musholla yang
berada di sebelah barat Bapak Turmudzi sudah tidak difungsikan lagi. Sampai
saat ini, masjid Al-Busro sudah mengalami tiga kali renovasi, terhitung sejak
tahun 2004 lalu. Tahun 2016 mendatang, rencananya masjid Al-Busro akan
diperluas dan direnovasi lagi.
B.
Peran, Fungsi dan Kelembagaan Masjid
1.
Peran dan Fungsi Masjid
Masjid
adalah tempat ibadah yang sejatinya bukan hanya digunakan sebagai sarana sholat
semata. Lebih dari itu, masjid juga dapat difungsikan sebagai sarana untuk
mengembangkan aspek-aspek pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga keberadaan masjid akan lebih diakui
dan lebih mengena di hati masyarakatnya.
Kegiatan keagamaan banyak dilakukan di masjid
ini, baik yang sifatnya rutinan maupun ceremonial. Kegiatan rutinan seperti
tawasulan, tahlilan dan pembacaan kitab barzanji dilaksanakan tiap malam dengan
jadwal yang berbeda-beda. Adapun kegiatan yang sifatnya ceremonial, diantaranya
peringatan hari besar Islam seperti maulid nabi, muharroman serta penyembelihan
hewan qurban.
Dalam bidang
pendidikan, Masjid Al Busro sempat digunakan sebagai tempat belajar mengajar
baca tulis Al-Qur’an. Namun setelah dibangunnya madrasah tepat di belakang
masjid, kini kegiatan belajar mengajar dialihkan ke madrasah. Kajian keilmuan
semacam diskusi juga rutin diadakan tiap hari Jumat kliwon.
Musyawarah
antar jamaah maupun pengurus masjid menjadi salah satu kegiatan sosial yang
dilakukan di masjid.
2.
Kelembagaan Masjid
STRUKTUR
ORGANISASI
IKATAN REMAJA
MASJID (IRMAS) AL-BUSRO
DESA UJUNGNEGORO
KECAMATAN KESESI KAB. PEKALONGAN
PERIODE
2015/2018
Pelindung : Kepala Desa Ujungnegoro
Ketua : Zaenal Abidin
Sekretaris : Abdul Karim
Bendahara : Wartono
Humas : Turmudi
Keamanan : Ratno
Ibadah : Wahyudin
Kebersihan : Ahmad
STRUKTUR ORGANISASI
IKATAN REMAJA MASJID
(IRMAS) AL-BUSRO
DESA UJUNGNEGORO KECAMATAN
KESESI KABUPATEN PEKALONGAN
PERIODE 2015/2018
Pelindung :
Kepala Desa Ujungnegoro
Penasehat :
Kusnaryo
Ketua :
Muhyidin
Setkretaris :
Kholik Luqman
Bendahara :
Nurrofiq
Humas :
Carmo
Perlengkapan :
Tasdi
Keamanan :
Sahroni
Kebersihan :
Sarifudin
C.
Gambaran Jamaah Masjid
Mayoritas masyarakat desa Ujungnegoro beragama Islam.
Terdapat dua organisasi keagamaan di desa ini. Pertama adalah Nahdlatul Ulama
(NU), merupakan organisasi keagamaan terbesar di desa Ujungnegoro. Kedua,
Syahadatain, organisasi keagamaan ini didominasi oleh orang tua. Pengikutnya
tidak sebanyak NU, namun tersebar di 2 dusun.
Di Masjid
Al-Busro sendiri, jamaah didominasi oleh pengikut Syahadatain. Tokoh yang membawa masuk aliran ini ke desa
Ujungnegoro adalah Busrol Kafi atau lebih dikenal dengan nama Mbah Busro. Mbah
Busro lahir di desa Sidomulyo, kecamatan Kesesi pada tahun 1911. Beliau menikah
dengan Ibu Tuminah, anak dari Lebe Ujungnegoro pada waktu itu. Kemudian Mbah
Busro tinggal bersama istrinya di Ujungnegoro. Dari sinilah beliau mulai
mengenalkan Syahadatain kepada masyarakat. Jamaah ini identik dengan jubah
putih yang selalu dikenakan kaum laki-laki ketika melaksanakan sholat. Pada
mulanya banyak warga yang mengira bahwa Syahadatain adalah aliran sesat. Namun seiring
berjalannya waktu, wargapun mulai menerima kehadiran Syahadatain, terlebih
setelah warga mengetahui bahwa Syahadatain merupakan bagian dari jamaah
thoriqoh yang didirikan oleh Habib Umar dari Cirebon.
D.
Masalah Sosial Jamaah Masjid (Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Keagamaan dan
Lingkungan)
1.
Kesehatan
Kondisi kesehatan jama’ah masjid dapat dikatakan relatif
normal dan sehat. Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran jama’ah terhadap
kebersihan dan kesehatan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun demikian, terdapat 2 orang penderita tunanetra, 2
orang penderita tunarungu permanen disebabkan faktor usia, 2 orang penderita
tunawicara, serta 1 orang penderita bibir sumbing. Selain itu, terdapat pula 2
anak yang berkebutuhan khusus. Usianya kurang lebih 14-15 tahun. Terdapat pula
penderita cacat mental sebanyak 2 orang yang disebabkan oleh frustasi atau
keturunan.
2.
Pendidikan
Pendidikan di Desa Ujungnegoro masih sangat kurang. Lembaga
pendidikan formal yang ada hanya SD, yaitu SD Negeri Desa Ujungnegoro dan TK/RA
yang berada di depan Aula Balai Desa Ujungnegoro. Sedangkan untuk SMP dan SMA
hanya ada di luar desa, yaitu di Kesesi. Meskipun demikian, anak usia sekolah
di desa Ujungnegoro mayoritas mengenyam pendidikan. Warga di sana dapat
dikatakan tidak ada yang buta aksara. Manula di desa Ujungnegoro pun jarang
yang buta aksara, karena tingkat kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan
sangat tinggi.
3.
Ekonomi
Dalam bidang perekonomian, Desa Ujungnegoro dapat
dikatakan sejahtera. Karena hampir semua warganya mempunyai penghasilan baik
yang harian, mingguan, bulanan dan yang tidak terikat. Mayoritas warga Desa
Ujungnegoro berkerja sebagai petani. Sebagian lagi bekerja sebagai perawat,
penambang pasir, dan PNS. Ada juga yang menjadi buruh harian lepas dan
sebagainya.
4.
Keagamaan
Dari hasil wawancara dan tanya jawab kami dengan Bapak
Zaenal A. selaku Imam Masjid Al-Busro, dan tokoh masyarakat lainnya, kegiatan
keagamaan di desa ini sangat baik. Dikatakan baik karena kegiatan keagamaan di sana
cukup banyak dan hampir setiap malam dalam satu minggunya pasti ada kegiatan keagamaan.
Diantara kegiatan keagamaan yang ada di Desa Ujungnegoro yaitu:
-
Pengajian Rabu Pahingan.
-
Marhabanan Ibu-ibu PKK tiap hari Sabtu.
-
Marhabanan bapak-bapak tiap malam Jum’at.
-
Yasin dan Tahlil.
-
Tawashul tiap malam Senin dan malam Jum’at.
-
Peringatan hari besar Islam.
-
Maulidan.
-
Haul tokoh masyarakat jama’ah masjid Al Busro.
-
Halal bi halal.
5.
Lingkungan
Sumber air ditopang oleh ledeng/PDAM yang
disalurkan melalui pipa atau selang ke rumah warga. Selang atau pipa tersebut tersebar
hampir di tiap rumah. Ketika musim kemarau yang sangat sulit untuk mendapatkan
air bersih.Foto - foto dokumentasi anak, remaja dan masyarakat desa ujungnegoro kecamatan kesesi kabupaten pekalongan



















































