Selasa, 10 Mei 2016

Desa Ujungnegoro Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan



PROFIL DESA UJUNGNEGORO KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGAN

A.    Gambaran Umum Desa
          Desa Ujungnegoro merupakan desa yang terletak di kecamatan Kesesi kabupaten Pekalongan provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 766.562 hektar.
          Secara geografis desa Ujungnegoro berada di 33 meter di atas permukaan laut, dengan batas wilayah sebagai berikut:
sebelah utara        : desa Kesesi
sebelah timur        : desa Karyomukti
sebelah selatan     : desa Windurojo, dan
sebelah barat        : kecamatan Bodeh, Pemalang
          Desa Ujungnegoro merupakan salah satu desa dari 23 desa yang ada di kecamatan Kesesi. Desa Ujungnegoro pertama kali dibuka oleh sesepuh mbah Kiai Ujung dan mbah Kiai Ageng Sengoro. Beliau berdualah yang mendirikan desa yang  yang ketika itu masih dalam masa penjajahan oleh Belanda. Desa Ujungnegoro dulunya merupakan hutan belantara yang kemudian dijadikan pemukiman penduduk oleh mbah Kiai Ujung dan mbah Kiai Ageng Sengoro  dan beliau berdua jugalah yang menyebarkan serta memberikan pendidikan tentang agama Islam di desa Ujungnegoro. Itulah asal mula pemberian nama desa Ujungnegoro yang diambil dari nama sesepuh mbah Kiai Ujung dan mbah Kiai Ageng Sengoro.
          Seluruh masyarakat desa Ujungnegoro beragama Islam dengan tempat peribadatan terdiri dari 3 masjid dan 7 musholla yang tersebar di wilayah Ujungnegoro.
B.     Desa Pada Masa Lalu   
          Desa Ujungnegoro pada masa lalu berupa hutan belantara yang masih sedikit penduduknya. Jalan belum beraspal dan masih banyak fasilitas ataupun sarana prasarana yang belum memadai. Sebagian besar rumah penduduk masih berdindingkan kayu dan berlantaikan tanah. Mata pencaharian penduduk sebagian besar pada sektor pertanian dan peternakan. Sedangkan dalam bidang pendidikan saat itu masih rendah, sebagian besar penduduk tidak mengenyam pendidikan, gedung sekolah tidak memadai. Penduduk pada masa itu belum sadar akan pentingnya KB.

C.    Desa pada Masa Kini
          Desa Ujungnegoro terdiri dari 2 dusun. Dusun Ujungnegoro dan dusun Kapirutan. Dusun Ujungnegoro terdiri dari kurang lebih 600 rumah sedangkan dusun Kapirutan terdiri kurang lebih 70 rumah.
          Jumlah penduduk mencapai 2.451 jiwa, terdiri dari 1.259 laki-laki dan 1.198 perempuan. Profesi yang dijalani oleh masyarakat desa Ujungnegoro mayoritas adalah petani. Selain petani, masyarakat desa Ujungnegoro juga berprofesi sebagai buruh, dagang, dan lain sebagainya. 
          Kondisi jalan di desa Ujungnegoro cukup baik, namun ada jalan di beberapa gang yang kondisinya kurang baik. Terkait dengan sarana prasarana lainnya, di desa Ujungnegoro terdapat satu klinik desa yang digunakan oleh masyarakat sebagai tempat berobat.



                                              


BAB II
PROFIL JAMAAH MASJID

A.      Sejarah Berdirinya Masjid
     Di desa Ujungnegoro terdapat 3 masjid yang menjadi pusat peribadatan. Masjid pertama adalah Masjid Al-Busro yang berada di RT 02 RW 02. Masjid kedua adalah Masjid Roudhotul Muttaqin yang berada di RT 03 RW 01, sebelah utara Balai Desa Ujungnegoro. Terakhir, adalah Masjid Kapirutan yang berada di Dukuh Kapirutan, Desa Ujungnegoro. Ketiga masjid tersebut mempunyai ciri serta keadaan yang berbeda.
          Masjid Al-Busro adalah masjid yang pertama kali dibangun di Desa Ujungnegoro. Sebelum ada masjid Al-Busro, masyarakat di Dusun Ujungnegoro menggunakan musholla sebagai sarana beribadah. Musholla Al-Busro tersebut berada disebelah barat rumah Bapak Turmudzi, salah seorang jamaah masjid. Tidak hanya sholat lima waktu, sholat jum’at dan sholat hari raya juga dilakukan di musholla tersebut. Semakin lama, jumlah jamaah semakin banyak, sehingga tercipta ide untuk membangun sebuah masjid. Setelah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak, pada tahun 1947 dibangun sebuah masjid di atas tanah wakaf. Masjid tersebut kemudian diberi nama Masjid Al-Busro. Nama Al-Busro sendiri diambil dari nama salah seorang sesepuh desa, yaitu Busrol Kafi yang lebih akrab disapa Mbah Busro.
     Dalam pembangunannya, masyarakat banyak menemui kendala, salah satunya adalah mesalah pendanaan. Awalnya, biaya pembangunan masjid ditanggung oleh dana desa. Namun, ketika pembangunan masjid baru setengah jadi, terjadi konfllik di pemerintahan desa. Konflik tersebut dikarenakan bapak kepala desa, Bapak Sutaryo, mengundurkan diri. Banyak warga yang tidak mengetahui alasan bapak kepala desa mengundurkan diri. Konflik ini berdampak pada proses pembangunan masjid. Dana desa yang masih dibutuhkan warga untuk membangun masjid menjadi terhenti. Akibatnya warga bergotong royong mengumpulkan dana guna menutupi kekurangan biaya sekaligus merampungkan bangunan masjid.
     Setelah lebih dari dua bulan,  masjid Al-Busro selesai dibangun dan digunakan untuk kegiatan ibadah warga. Sedangkan musholla yang berada di sebelah barat Bapak Turmudzi sudah tidak difungsikan lagi. Sampai saat ini, masjid Al-Busro sudah mengalami tiga kali renovasi, terhitung sejak tahun 2004 lalu. Tahun 2016 mendatang, rencananya masjid Al-Busro akan diperluas dan direnovasi lagi.
      
B.       Peran, Fungsi dan Kelembagaan Masjid
1.      Peran dan Fungsi Masjid
        Masjid adalah tempat ibadah yang sejatinya bukan hanya digunakan sebagai sarana sholat semata. Lebih dari itu, masjid juga dapat difungsikan sebagai sarana untuk mengembangkan aspek-aspek pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.  Sehingga keberadaan masjid akan lebih diakui dan lebih mengena di hati masyarakatnya.
         Kegiatan keagamaan banyak dilakukan di masjid ini, baik yang sifatnya rutinan maupun ceremonial. Kegiatan rutinan seperti tawasulan, tahlilan dan pembacaan kitab barzanji dilaksanakan tiap malam dengan jadwal yang berbeda-beda. Adapun kegiatan yang sifatnya ceremonial, diantaranya peringatan hari besar Islam seperti maulid nabi, muharroman serta penyembelihan hewan qurban.
        Dalam bidang pendidikan, Masjid Al Busro sempat digunakan sebagai tempat belajar mengajar baca tulis Al-Qur’an. Namun setelah dibangunnya madrasah tepat di belakang masjid, kini kegiatan belajar mengajar dialihkan ke madrasah. Kajian keilmuan semacam diskusi juga rutin diadakan tiap hari Jumat kliwon.
        Musyawarah antar jamaah maupun pengurus masjid menjadi salah satu kegiatan sosial yang dilakukan di masjid.

2.      Kelembagaan Masjid
       
STRUKTUR ORGANISASI
IKATAN REMAJA MASJID (IRMAS) AL-BUSRO
DESA UJUNGNEGORO KECAMATAN KESESI KAB. PEKALONGAN
PERIODE 2015/2018

        Pelindung        : Kepala Desa Ujungnegoro
        Ketua              : Zaenal Abidin
        Sekretaris        : Abdul Karim
        Bendahara       : Wartono
        Humas             : Turmudi
          Keamanan       : Ratno
          Ibadah             : Wahyudin
          Kebersihan      : Ahmad


STRUKTUR ORGANISASI
IKATAN REMAJA MASJID (IRMAS) AL-BUSRO
DESA UJUNGNEGORO KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGAN
PERIODE 2015/2018

Pelindung      : Kepala Desa Ujungnegoro
Penasehat      : Kusnaryo
Ketua                        : Muhyidin
Setkretaris     : Kholik Luqman
Bendahara     : Nurrofiq
Humas           : Carmo
Perlengkapan : Tasdi
Keamanan     : Sahroni
Kebersihan    : Sarifudin
C.      Gambaran Jamaah Masjid
     Mayoritas masyarakat desa Ujungnegoro beragama Islam. Terdapat dua organisasi keagamaan di desa ini. Pertama adalah Nahdlatul Ulama (NU), merupakan organisasi keagamaan terbesar di desa Ujungnegoro. Kedua, Syahadatain, organisasi keagamaan ini didominasi oleh orang tua. Pengikutnya tidak sebanyak NU, namun tersebar di 2 dusun.
     Di Masjid Al-Busro sendiri, jamaah didominasi oleh pengikut Syahadatain.  Tokoh yang membawa masuk aliran ini ke desa Ujungnegoro adalah Busrol Kafi atau lebih dikenal dengan nama Mbah Busro. Mbah Busro lahir di desa Sidomulyo, kecamatan Kesesi pada tahun 1911. Beliau menikah dengan Ibu Tuminah, anak dari Lebe Ujungnegoro pada waktu itu. Kemudian Mbah Busro tinggal bersama istrinya di Ujungnegoro. Dari sinilah beliau mulai mengenalkan Syahadatain kepada masyarakat. Jamaah ini identik dengan jubah putih yang selalu dikenakan kaum laki-laki ketika melaksanakan sholat. Pada mulanya banyak warga yang mengira bahwa Syahadatain adalah aliran sesat. Namun seiring berjalannya waktu, wargapun mulai menerima kehadiran Syahadatain, terlebih setelah warga mengetahui bahwa Syahadatain merupakan bagian dari jamaah thoriqoh yang didirikan oleh Habib Umar dari Cirebon.

D.      Masalah Sosial Jamaah Masjid (Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Keagamaan dan Lingkungan)
1.                Kesehatan
Kondisi kesehatan jama’ah masjid dapat dikatakan relatif normal dan sehat. Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran jama’ah terhadap kebersihan dan kesehatan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun demikian, terdapat 2 orang penderita tunanetra, 2 orang penderita tunarungu permanen disebabkan faktor usia, 2 orang penderita tunawicara, serta 1 orang penderita bibir sumbing. Selain itu, terdapat pula 2 anak yang berkebutuhan khusus. Usianya kurang lebih 14-15 tahun. Terdapat pula penderita cacat mental sebanyak 2 orang yang disebabkan oleh frustasi atau keturunan.
2.                Pendidikan
Pendidikan di Desa Ujungnegoro masih sangat kurang. Lembaga pendidikan formal yang ada hanya SD, yaitu SD Negeri Desa Ujungnegoro dan TK/RA yang berada di depan Aula Balai Desa Ujungnegoro. Sedangkan untuk SMP dan SMA hanya ada di luar desa, yaitu di Kesesi. Meskipun demikian, anak usia sekolah di desa Ujungnegoro mayoritas mengenyam pendidikan. Warga di sana dapat dikatakan tidak ada yang buta aksara. Manula di desa Ujungnegoro pun jarang yang buta aksara, karena tingkat kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan sangat tinggi.
3.    Ekonomi
Dalam bidang perekonomian, Desa Ujungnegoro dapat dikatakan sejahtera. Karena hampir semua warganya mempunyai penghasilan baik yang harian, mingguan, bulanan dan yang tidak terikat. Mayoritas warga Desa Ujungnegoro berkerja sebagai petani. Sebagian lagi bekerja sebagai perawat, penambang pasir, dan PNS. Ada juga yang menjadi buruh harian lepas dan sebagainya.
4.    Keagamaan
Dari hasil wawancara dan tanya jawab kami dengan Bapak Zaenal A. selaku Imam Masjid Al-Busro, dan tokoh masyarakat lainnya, kegiatan keagamaan di desa ini sangat baik. Dikatakan baik karena kegiatan keagamaan di sana cukup banyak dan hampir setiap malam dalam satu minggunya pasti ada kegiatan keagamaan. Diantara kegiatan keagamaan yang ada di Desa Ujungnegoro yaitu:
-       Pengajian Rabu Pahingan.
-       Marhabanan Ibu-ibu PKK tiap hari Sabtu.
-       Marhabanan bapak-bapak tiap malam Jum’at.
-       Yasin dan Tahlil.
-       Tawashul tiap malam Senin dan malam Jum’at.
-       Peringatan hari besar Islam.
-       Maulidan.
-       Haul tokoh masyarakat jama’ah masjid Al Busro.
-       Halal bi halal.
5.    Lingkungan
Sumber air ditopang oleh ledeng/PDAM yang disalurkan melalui pipa atau selang ke rumah warga. Selang atau pipa tersebut tersebar hampir di tiap rumah. Ketika musim kemarau yang sangat sulit untuk mendapatkan air bersih.

Foto - foto dokumentasi anak, remaja dan masyarakat desa ujungnegoro kecamatan kesesi kabupaten pekalongan